Karawang – Perum Bulog menyiapkan opsi penggunaan kemasan lama untuk distribusi beras bantuan pangan dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap fluktuasi harga bahan baku plastik yang sempat mengalami kenaikan.

Direktur Pengadaan Bulog Prihasto Setyanto menjelaskan bahwa kebijakan ini muncul di tengah dinamika harga biji plastik. Meskipun kini mulai menunjukkan tren penurunan, harga biji plastik sempat meningkat signifikan.

“Dengan dinamika harga biji plastik yang sempat naik tinggi, sekarang sudah mulai agak turun. Tapi walaupun enggak serendah sebelum perang, trennya sudah agak turun. Kita masih bisa berproses untuk mengakses tender untuk pengadaan kemasan,” ujar Prihasto di Kawasan Pergudangan Genesis, Karawang, Kamis (23/4).

Prihasto menambahkan, Bulog tetap melanjutkan proses pengadaan kemasan baru, baik untuk bantuan pangan maupun SPHP. Ia menargetkan seluruh kebutuhan kemasan dapat diselesaikan dalam waktu dekat.

“Insyaallah kemasan ini di Mei ini kita bisa menyelesaikan semuanya untuk kemasan yang dibutuhkan,” katanya.

Sambil menunggu penyelesaian pengadaan kemasan baru, Bulog akan memanfaatkan stok kemasan lama yang masih tersedia dalam jumlah besar. Penggunaan kemasan lama ini juga sesuai dengan arahan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).

“Sesuai perintah dari Badan Pangan Nasional, kita boleh menggunakan kemasan sisa-sisa yang lama. Sisa kemasan yang lama itu tinggal kita labelin saja. Yang penting segera ini digunakan untuk distribusi ke masyarakat,” terang Prihasto.

Ia menyebut, stok kemasan lama yang belum terpakai masih mencapai jutaan lembar dan siap untuk digunakan.

Prihasto juga menyoroti potensi kesalahpahaman di masyarakat yang mungkin timbul akibat penggunaan kemasan lama, terutama terkait tanggal kedaluwarsa yang tertera pada kemasan tersebut.

“Di kemasan lama itu kadang tertulis expired date tahun 2024. Jadi bukan berasnya yang expired, ini cuma kemasannya saja pakai kemasan lama. Berasnya beras baru,” tegasnya.

Untuk menghindari kebingungan dan memastikan informasi yang akurat sampai ke masyarakat, Bulog akan menambahkan label atau stiker penjelas pada setiap kemasan sebelum didistribusikan. Langkah ini diambil agar proses distribusi beras tidak terhambat oleh keterbatasan kemasan. Kebijakan penggunaan kemasan lama ini berlaku untuk seluruh program distribusi Bulog.

“Yang penting sekarang jangan sampai terhambat oleh ketersediaan kemasan. Pakai saja kemasan yang ada, sisa-sisa yang dulu-dulu,” ujar Prihasto.

Bulog memastikan bahwa kualitas beras yang didistribusikan tetap terjaga karena yang digunakan adalah beras baru. Penggunaan kemasan lama hanya merupakan solusi sementara di tengah kondisi pasokan bahan kemasan yang dinamis. (del/ins)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *